Hubungan Antara Keturunan Sultan Kotawaringin Dengan Masyarakat dan Pemerintahan Lokal

lambang-ker.jpg

Interaksi Sosial Antara Keturunan Sultan Dengan Masyarakat

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok satu dengan kelompok lain dengan maksud tertentu. Dalam hal ini interaksi sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (Arif Rahman dkk : 200 : 7)
a. Adanya dua orang pelaku atau lebih.
b. Adanya hubungan timbal balik antar pelaku.
c. Diawali dengan adanya kontak sosial baik secara langsung (kontak sosial primer) maupun secara tidak langsung (kontak sosial sekunder).
d. Adanya dimensi waktu (lampau, sekarang, dan akan datang) yang menentukan sifat hubungan timbal balik yang sedang berlangsung.
e. Adanya tujuan dari masing-masing pelaku.
Interaksi sosial dalam cakupan yang luas yaitu dalam cakupan hubungan struktural di dalam masyarakat, terjalin melalui serangkaian hubungan kedudukan dan peran masing-masing anggota masyarakat. Hubungan antara kedudukan dan peran masing-masing anggota tersebut menjelma menjadi susunan rangkaian hubungan tingkatan kakuasaan.
Seseorang yang memiliki kedudukan paling atas dengan sendirinya akan mempunyai kekuasaan yang besar. Sebaliknya seseorang yang hanya menduduki dan memiliki peran sosial paling bawah sudah barang tentu ia hanya mempunyai kekuasaan sangat kecil bahkan dapat dibilang tidak mempunyai kekuasaan.
Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa nara sumber, dapat disimpulkan bahwa terjadinya interaksi sosial antara keturunan Sultan dengan masyarakat pada tahun 1950-1960 berjalan dengan baik. Interaksi sosial yang terjadi lebih bersifat positif dan tidak mengarah kearah negatif. Interaksi sosial lebih banyak kearah kerjasama tanpa merasa adanya perbedaan status yang mencolok diantara mereka.
Masing-masing diantara keturunan Sultan dan masyarakat memegang perannya secara baik dikehidupan bermasyarakat, sehingga tidak pernah terjadi konflik yang mengarah kepada perpecahan. Masyarakat menyadari dengan baik status sosial mereka demikian juga dengan para keturunan Sultan. Baca lebih lanjut

Hipotesa Masuknya Budaya India Ke Indonesia

stupa-terbuka.jpg 

  • Hipotesa Brahmana oleh J.C.Van Leur : Van Leur berpendapat bahwa hal ini terjadi akibat kontak dengan India melalui jalur perdagangan, yang menyebabkan keinginan bangsa Indonesia untuk berhadapan langsung dengan orang India dan untuk meningkatkan keadaan negerinya sehingga mereka mengundang brahmana untuk mengajar. Atas hipotesa ini Bosch berpendapat: bahwa golongan cendikiawanlah yang dapat menyampaikannya kepada bangsa Indonesia, golongan tersebut disebutnya “clerks” dan untuk proses tersebut ia mengusulkan istilah “penyuburan” dan istilah “arus balik”.
  • Hipotesa perdagangan oleh H.J.Kroom : Kroom berpendapat bahwa yang memiliki peran untuk masuknya kebudayaan india ke indonesia adalah kasta Waisya atau para pedagang, mereka yang kemudian menetap dan memegang peranan penyebaran kebudayaan India melalui hubungan dengan penguasa di Indonesia serta adanya kemungkinan perkawinan dengan orang-orang pribumi. Atas hipotesa ini Van Leur berpendapat : kedudukan Wiasya tidak berbeda dengan rakyat biasa, sehingga hubungan mereka dengan penguasa hanyalah hubungan dagang biasa saja, tidak untuk menyebarkan kebudayaan India. Sedangkan Bosch berpendapat : bahwa yang menyebarkan kebudayaan haruslah orang yang pandai, di Indonesia golongan pedagang tidak diperkenankan untuk mempelajari kitab weda.
  • Hipotesa Ksatria oleh F.D.K.Bosch : Bosch berpendapat bahwa golongan Ksatrialah yang paling banyak datang ke Indonesia karena adanya migrasi besar-besaran kasta Ksatria, hal ini disebabkan karena sering terjadinya perang di India waktu itu, serta dibarengi oleh penaklukan daerah-daerah oleh kasta Ksatria. Atas hipotesa ini Kroom berpendapat : bahwa peranan bangsa Indonesia dalam pembentukan budaya Indonesia hindu sangat penting. Hal ini tidak mungkin jika bangsa Indonesia berada dibawah tekanan kasta Ksatria. Sedangkan Van Leur berpendapat : jika ada penaklukan pasti ada catatan, namun hal ini tidak ada, kolonisasi juga menyebabkan perpindahan unsur dari masyarakat asal, namun di Indonesia kebudayaannya berbeda dengan di India.