Menyoal Anjing

Saya pernah membaca sebuah buku yang memuat kumpulan cerpen, kalau ga salah judulnya “protes-protes-protes” tapi saya lupa nama pengarangnya. Di buku itu ada sebuah cerita yang menyoroti kehidupan anjing yang sebenarnya protes namanya di gunakan oleh manusia yang katanya lebih bermartabat untuk mengumpat sesama jenisnya, namun ada juga yang menggunakan namanya untuk mengatakan sebuah kekaguman. Selain itu juga namanya juga mengalami beberapa modifikasi sesuai dari mulut orang yang mengucapkan namanya tersebut.

Saya sengaja mengangkat tema ini bukan karena saya memiliki seekor anjing atau anggota para penyayang anjing, saya seorang muslim yang tentunya menyentuh hewan tersebutpun tidak boleh apa lagi memakannya. Namun jika disadari hewan tersebut tentunya tidak minta diciptakan sebagai anjing, bahkan kalau bisa meminta pada tuhan mungkin mereka mau terlahir sebagai binatang lain yang lebih indah.

Sebagai manusia kita lebih berakal dan dapat mementukan ucapan apa yang tepat untuk mengungkapkan kekesalan kita pada seseorang. apakah Anjing merupakan kata2 yang super hebat untuk menghujat sesorang? anda jawab sendiri aja. Namun jika diperhatikan fenomena penggunaan kata anjing sudah ada sejak lama, contohnya ada pada film-film lawas.

Penggunaan kata anjing mengalami perubahan seperti : Anjrit, anjir, atau apalah yang sama maksudnya. Kasihan kan coba kalau nama anda yang di jadikan ucapan untuk menghujat tentunya akan marah besar, Tidak semua anjig itu buruk, anjing kan ada yang dijanjikan surga yaitu Qitmir anjingnya Ashabul Kahfi, bagaimana menurut anda?

Stratifikasi Sosial Tiga Zaman Di Pangkalan Bun

Stratifikasi Sosial Masyarakat Masa Hindia Belanda

Sistem pelapisan sosial stratifikasi masyarakat masa Hindia Belannda adalah secara umum masyarakat telah terbelah menjadi dua, yaitu golongabn penjajah atau penguasa, dan golongan terjajah atau rakyat. Pemisahan ini berdampak pada hak dan kewajiban dan masing-masing golongan tersebut dalam kolonial yang bersifat diskriminatif.
Golongan pertama tinggal di pusat-pusat kota dan berhak mendapatkan fasilitas lebih dalam hal ekonomi, hukum, kesehatan, serta pendidikan. Sedangkan golongan kedua hanya tinggal di kampung-kampung dengan fasilitas yang sangat sederhana. Di dalam golongan pertama ini terdapat para pejabat tinggi, tentara, pegawai-pegawai Belanda dan orang-orang imigran asing, mereka semua dianggap sebagai warga kota. Sedangkan orang-orang pribumi dianggap sebagai orang asing yang tidak boleh tinggal dipusat kota, melainkan harus tinggal di pinggir kota dan di desa.
Dalam kenyataannya, pelapisan sosial pada masa Hindia Belanda sebenarnya sangat berlapis-lapis. Seperti dalam peraturan hukum ketatanegaraan Hindia Belanda (Indische Staatsregeling) tahun 1927, lapisan sosial masyarakat dibedakan menjadi 3 golongan yaitu:
a. Golongan Eropa dan yang dipersamakan, golongan ini terdiri atas:
1) Orang-orang Belanda dan keturunannya
2) Orang-orang Eropa lainnya seperti Inggris, Prancis Portugis, dan lain-lain.
3) Orang-orang yang bukan bangsa Eropa tetapi telah masuk menjadi golongan Eropa atau telah diakui sebagai golongan Eropa. Baca lebih lanjut

Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Di Beberapa Bidang Sebelum dan Sesudah Tahun 1950-an

bangunan-istana.jpg

 

Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Sebelum Tahun 1950

Peranan Di Bidang Pemerintahan

Kesultanan Kotawaringin berdiri lebih dari tiga abad dengan satu kali perpindahan ibu kota dari Kotawaringin Lama ke Sukabuni Indra Sakti yang kemudian dinamai Pangkalan Bu’un. Sultan pertama Kesultanan Kotawaringin adalah Pangeran Adipati Antakesuma bin Sultan Mustainubillah dengan gelar Ratu Bengawan Kotawaringin. Beliau memerintah dari tahun 1615-1630 M dengan dibantu Mangkubumi Kyai Gede.
 Di masa pemerintahan sultan pertama ini disusun undang-undang Kesultanan Kotawaringin yakni Kitab Kanun Kuntala, selain itu di bangun Istana Luhur sebagai keratin Kesultanan Kotawaringin. Sultan juga membangun Perpatih (rumah patih) Gadong Bundar Nurhayati dan Perdipati (rumah panglima Perang) Gadong Asam, selain itu untuk keperluan perang dibangun Pa’agungan sebagai tempat menyimpan senjata dan beliau juga membangun surau serta paseban. (Bappeda : 2004 : 9-10) Baca lebih lanjut