soft skill unlam sepi peminat

Hari ini sebenarnya diadakan pelatihan soft skill di aula rektorat lantai III unlam banjarmasin, yang sebenarnya diperuntukkan kepada para alumni unlam yang baru di wisuda tanggal 19 maret kemarin. Namun ternyata yang mengikuti pelatihan tersebut sedikit sekali, cuma puluhan orang dari jumlah wisudawan dan wisudawati yang hampir 2000-an orang. Hal ini bagi saya sangat disayangkan karena ini merupakan pembekalan yang baik dari kampus unlam terhadap para alumninya, agar dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah atau malah menjadi pembuat lapangan pekerjaan nantinya.

Pada acara ini dihadirkan para nara sumber yang cukup berkelas seperti pengusaha sukses, psikolog dan ahli teknologi informasi. Mereka memberikan masukan dan motivasi yang baik bagaimana cara menjadi pengusaha sukses dari nol, bagaimana menghadapi wawancara, dan bagaimana cara melamar kerja melalui internet.

Sebenarnya acara ini sangat murah karena dengan hanya membayar Rp. 10.000, peserta memperoleh materi yang di sampaikan, snak, makan siang dan tentunya pengetahuan tentang dunia kerja yang tidak di peroleh di bangku perkuliahan. Namun seperti yang saya ungkapkan di atas, acara ini sepi peminat, malah yang datang ada para alumni yang sudah lama lulus yang sudi meluangkan waktu untuk ikut. Kemana para lulusan yang barusan di wisuda ? mungkin sudah pada pulang kampung kali ya he….he…..

Satu yang ingin saya ucapkan : thanks unlam yang telah mengadakan pelatihan ini, maju terus almamaterku.

Puisi : 3/6 Perasaan

Ketika ku terawang langit malam

Nan cerah namum tak berbintang

Rembulan yang seakan malu-malu

Menampakkan wajahnya di balik awan

Imajinasiku menari seiring nyanyian

Binatang-binatang malam

Seberkas cahaya yang selalu ku damba

Dalam relung-relung jiwa ini

Mengerti akan semua keinginan

Apa yang ada dalam asaku

Tertoreh dalam kalbuku

Terpahat dalam jiwaku

Ku coba tuk pejamkan mataku

Di kala kantuk mulai menyapa

Dan membius kebisuan sukma

Menuju taman-taman bunga

Yang bermekaran di musim semi

Untuk menemui kau seorang

Banjarmasin, 9 Januari 2005

Puisi : Panorama Alam Jiwa

Dinding-dinding kalbu yang semakin usang, berkumut dan tak terurus

Ruang-ruang jiwa yang kusam, berserakan dan teratur

Akankah semua kan hilang karena pancaroba kehidupan ini

Bergelut dengan waktu namun tak tahu apa kehendak hati

Ingin ku teriakkan arti kebebasan yang terkadang tabu bagi mereka

Ku jelajah semua asa yang buram tanpa pelita, tanpa cahaya

Angin kehidupan yang berhembus melalui ventilasi kealfaan

Berjibaku…..jika perlu….biar semua tahu

Anonim yang berlomba mengusung keranda keabadian

Sinonim yang berpacu melempar cakram kebebasan

Kurator yang kaya imajinasi tak lagi bergeming

orator pun tak ingin lagi menyalak, tapi mengelak

Banjarmasin, 29 Desember 2004

Guru Killer Udah Ga Zaman

dsc00253.jpgAnda pernah sekolah ? tentunya pernah dong, buktinya anda sekarang bisa membaca tulisan saya ini. Ketika anda sekolah masih ingatkah dengan guru-guru anda? saya sengaja mencoba mengingatkan memory-memory lama anda tantang guru-guru anda. Guru-guru yang biasa selalu kita ingat adalah guru yang baik dan guru yang killer, mereka diibaratkan peri baik dengan sayap yang putih di belakang dan peri jahat dengan tanduk dan badan yang berwarna merah (he..he..he.. jika saya boleh mengibaratkan).

Untuk guru yang baik kita tidak perlu membahas lagi, semua pasti senang terhadap beliau. Berbeda dengan guru yang killer melihatnya saja para siswa sudah takut, ketika belajar pun para siswa terlihat tenang tetapi tenang yang karena alasan takut bukan tenang karena memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Saya yakin anda pernah mengalami peristiwa tersebut ketika anda bersekolah dulu.

Trend guru killer pasti ada di setiap sekolah, walaupun sebenarnya sebagai seorang guru kewibawaan dan ketegasan diperlukan dalam mengajar agar siswa menyadari kedudukannya di sekolah, tetapi jangan disalah artikan dengan menggunakan kekerasan fisik terhadap siswa. Sebagai seorang guru tentunya diharapkan dapat mengayomi siswanya dan memberi contoh yang baik serta menunjukan sikap teladan bukan bertindak kasar.

Guru juga manusia, itu memang benar. Karena sebagai manusia tentunya ada batas kesabaran dan ada permasalahan yang lain selain di sekolah, tapi sekolahan bukanlah tempat untuk pelampiasan masalah tersebut. Bukankah lebih indah jika terjalin hubungan yang baik antara guru dan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Silahkan pilih mau jadi peri baik atau peri jahat ? he..he..he.. 🙂