Guru Killer Udah Ga Zaman

dsc00253.jpgAnda pernah sekolah ? tentunya pernah dong, buktinya anda sekarang bisa membaca tulisan saya ini. Ketika anda sekolah masih ingatkah dengan guru-guru anda? saya sengaja mencoba mengingatkan memory-memory lama anda tantang guru-guru anda. Guru-guru yang biasa selalu kita ingat adalah guru yang baik dan guru yang killer, mereka diibaratkan peri baik dengan sayap yang putih di belakang dan peri jahat dengan tanduk dan badan yang berwarna merah (he..he..he.. jika saya boleh mengibaratkan).

Untuk guru yang baik kita tidak perlu membahas lagi, semua pasti senang terhadap beliau. Berbeda dengan guru yang killer melihatnya saja para siswa sudah takut, ketika belajar pun para siswa terlihat tenang tetapi tenang yang karena alasan takut bukan tenang karena memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Saya yakin anda pernah mengalami peristiwa tersebut ketika anda bersekolah dulu.

Trend guru killer pasti ada di setiap sekolah, walaupun sebenarnya sebagai seorang guru kewibawaan dan ketegasan diperlukan dalam mengajar agar siswa menyadari kedudukannya di sekolah, tetapi jangan disalah artikan dengan menggunakan kekerasan fisik terhadap siswa. Sebagai seorang guru tentunya diharapkan dapat mengayomi siswanya dan memberi contoh yang baik serta menunjukan sikap teladan bukan bertindak kasar.

Guru juga manusia, itu memang benar. Karena sebagai manusia tentunya ada batas kesabaran dan ada permasalahan yang lain selain di sekolah, tapi sekolahan bukanlah tempat untuk pelampiasan masalah tersebut. Bukankah lebih indah jika terjalin hubungan yang baik antara guru dan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Silahkan pilih mau jadi peri baik atau peri jahat ? he..he..he.. 🙂

Iklan

9 thoughts on “Guru Killer Udah Ga Zaman

  1. Yach namanya guru juga manusia, beliau khan juga punya punya tanggung jawab moral untuk menjadikan murid-muridnya berhasil. Terkadang killer juga diperlukan kok, supaya murid-murid yang bandel bisa berdisiplin.

  2. salam kenal,
    mohon maaf sebelumnya saya tidak memiliki artike atau tulisan ttg hubungan antara kerajaan banjar dengan kotawaringi, InsyaAllah kalau saya punya pasti saya berikan kepada Bapak.
    tulisannya bagus banget Pak, saya sangat salut dengan tulisan Bapak…..
    saya juga mau sumbang kata2 utk tulisannya, maaf sebelumnya kalau mungkin tidak sesuai dg topik yh dibahas.
    saya kurang setuju dg ungkapan “Guru killer” sama halnya spt ungkapan “Sekolah Gratis”. utk menyikapi kasus yg spt ini menurut saya itu tergantung oleh persepsi individu muridnya, saya setuju dg pendapat Bapak2 diatas “gak ada kok guru yg killer” sampai membunuh misalkan muridnya tdk mengerti pelajaran yg diberikanya. kalau siswa menyikapinya dg positif InsyaAllah menuai hasil yg positif pula. para siswa sehrsnya terpacu utk belajar dg giat krn takut gurunya “mengerikan” kalau sedang mengajar. tapi sebenarnya sudah tdk jaman lg guru yg spt itu didunia pendidikan kita, marilah kita berusaha merubah diri dari yg dulunya “Saya adalah GURU dan Saya Paling Benar mjd Saya adalah Pembimbing, Pengayom, dan Contoh” bagi para siswa.
    mungkin ini dulu sdkt komentar dr saya, maaf kalau kata2nya menyinggung perasaan para pendidik, saya tdk bermksd spt itu
    Wassalam……

  3. Willy Ediyanto berkata:

    Killer. Dulu dengarnya sangat mengerikan – pembunuh – siapa atau apa yang dibunuh. Kalau pembunuhan fisik, tentu dia sudah digantung, tapi kalau pembunuhan karakter anak, pembunuhan keberanian siswa, wah itu lebih berbahaya, tidfak bisa diadili dan sangat menyesatkan. Nah, tertakhir, killer karena membunuh nilai siswa yang berprestasi karena kritis atau ngotot di hadapan guru, membuat malu guru, ya siswanya harus berpikir ulang.
    Ada akecenderungan orang mencampuradukan antara ngotot dan kritis, sih.

    Salam kenal dari saya, sesama warga Kobar. Saya di kumai.

  4. aku pikir hidup itu harus selalu selaras dan seimbang, ada hitam ada putih. ada air ada api, betipula akan hal ga ada sebutan guru softly apabila ga ada sesorang yang berperan sebagai guru killer. begitupun sebaliknya! so keberlanjutan guru killer yang memang sewajarnya harus ada supaya guru-guru yang hanya bermodal (modal inovasi pendidikan masih dipertanyakan)senyum juga kebagian predikat yaitu malaikat tanpa sayap.ok bung!btw selamat To Be S.Pd and 2b a good teachers. doakan kawan supaya cepat menyusul.

  5. Aku ga tau apa sekarang istilah itu masih dipakai. Yang pasti istilah itu dipopulerkan oleh siswa yang memang punya kepentingan terhadap kondisi yang tidak disukai oleh guru tersebut. Penggunaan istilah ‘killer’ juga salah kaprah karena sesungguhnya guru tidak pernah sampai membunuh. Guru ‘killer’ dalam kepala siswa adalah yang selalu marah. Namun, siswa lupa bahwa marah adalah senjata untuk meredam ribut dan kenakalan siswa.

    Sekarang mungkin kondisinya sudah berbeda. Guru sudah lebih softly.

    Selamat tinggal guru ‘killer’!

  6. satriadh berkata:

    saya setuju dengan guru killer, tapi klo guru ngiler saya jijay
    he..he..

    dalam suatu komunitas, baik dalam lingkungan sekolah adanya musuh bersama seperti guru killer itu perlu, soalnya biar sesama siswa jadi tambah akrab
    ga papa lah guru killer, demi persatuan dan kesatuan
    viva vor guru killer

  7. aku dulu punya guru killer. sadis benar dia. sering menyiksa temen2ku. aku sedih kalo inget itu. untung nggak ada yg mati (eh bisa terjadi lho). tapi aku berharap semoga dia udah nggak killer lagi. kalopun masih semoga ada yg laporin ke polisi biar kapok. 😦

  8. bener tuh.. yg diingat pasti kalo gak yg baik ya yg paling killer.. guru yg biasa2 aja malah jarang diinget..
    penerapan ‘metode killer’ dalam mengajar sebenarnya memang sangat gak pas. karena siswa biasanya malah takut untuk mengemukakan ide2 yg mereka miliki..

    btw salam kenal juga ya.. makasih udah berkunjung ke blogku 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s